Let’s Meet in England

Beberapa hari ini mood-ku sedang kurang bagus. Jelek banget, malah. Wajah cemberut, bicara seperlunya, bahkan acara Running Man yang biasanya bisa membuatku tertawa terbahak-bahak pun akhir-akhir ini cuma kutonton dalam diam. Teman sekantorku meledek, “Lagi galau habis putus cinta? Atau habis ditolak? Atau dua-duanya, Lin?”. Aku yang biasanya bakal menanggapi candaan seperti itu dengan serangan balik yang tak kalah menyebalkannya, kali itu hanya tersenyum datar. Galau karena putus cinta, sih, udah sering, tapi galau soal kontes menulis kayaknya baru aku rasakan sekarang.

Ya, aku kehabisan ide untuk menulis entry blog dengan tema “Kenapa Saya Harus ke Inggris?”.  Sudah hampir sebulan, hampir tiap malam aku “bertengger” di dahan pohon mangga di depan rumah untuk mencari ide. I have to write something unique, something that will make the judges hold their breath and whisper with beaming eyes, “This is it”. Memasuki minggu kelima bulan Mei, ide brilian tak kunjung datang, apalagi setelah aku iseng googling dengan kata kunci #InggrisGratis. Whoa. So many crazy good entries. Aku memaksa otakku berpikir lebih keras, “Come on, Linda. You can do it. You like England, for God’s sake! You like everything about England though you never go there! Write it!!”

Aku membenturkan kepala beberapa kali ke batang pohon tempatku menyandarkan punggung. Menatap langit sore yang mendung membuatku semakin frustrasi menghadapi deadline. Sialnya, tak lama kemudian guruh mulai terdengar, pertanda akan hujan besar. Aku tak bisa lama-lama nongkrong di dahan pohon itu. Titik-titik air pun mulai membasahi buku tulisku yang masih kosong. Segera kugulung buku itu dan kuselipkan di kantong belakang celana, lalu bersiap turun dari pohon.

CTAAAARR!!! Kilatan petir itu sedemikian kerasnya sampai membuatku kaget dan kakiku meleset dari dahan yang biasanya kujadikan pijakan turun. Aku terjatuh berdebum ke tanah. Kucoba bangun dengan bertumpu pada tanganku, tapi sengatan rasa sakit di sekujur lenganku memaksaku tetap terbaring di tanah, kehujanan dan tak berdaya. Perlahan pandanganku menjadi gelap.

“Hey, wake up, young lady! If you want a freeloading, go to the cooking room and help us peel the potatoes.”

Aku memicingkan mata, terbangun karena teriakan dalam bahasa Inggris dari suara yang tak kukenal. Hey, lenganku sudah tidak sakit! Aku mengamati lengan kananku, memeriksa apakah ada lebam, sampai akhirnya kusadari…bahwa aku memakai gaun tidur kumal yang pasti dulunya berwarna putih. Dengan panik, aku menoleh ke kiri dan kanan, menjumpai pemandangan yang asing…

Aku berada di sebuah ruangan sempit segi empat yang lebih mirip barak. Ruangan itu dipenuhi ranjang kayu sederhana, tersusun dua baris memanjang dengan masing-masing baris terpisah sekitar 30 sentimeter, cukup untuk berjalan bolak-balik dari ranjang ke pintu. Hanya ada aku dan seorang wanita agak gemuk berkulit kecokelatan, mungkin usianya sekitar 40-an. Dia menyilangkan tangan, menungguku benar-benar sadar.

“Uh… Where am I?”, aku bertanya sambil menepuk-nepukkan telapak tangan ke kepala, berharap sakitnya sedikit mereda.

Si wanita balik bertanya, “I should be the one asking: how could you lay there in the food storage, soaking wet and unconscious?”

“Pardon me?”

“Yes, young lady. None of the cook and maids knew who you are or why you’re there. And since we’ve started sailing, I’m afraid you won’t be able to go back to Southampton.”

Butuh waktu sekitar lima detik untuk memahami apa yang diucapkan wanita asing itu. Southampton? Sailing?

“I… I’m sorry. Where are we now?”, tergeragap, aku bertanya.

“We’re on board the Titanic.”

“APAAAAAAAAA???”

Kurasa aku pingsan cukup lama, karena ketika aku terbangun, ruangan penuh ranjang itu sudah penuh dengan wanita berbagai usia. Sebagian sudah terlelap di ranjang masing-masing, sebagian memandangiku, dan lainnya acuh saja. Aku turun dari ranjang dan melangkah pelan-pelan, keluar dari ruangan itu. Aku tak percaya omongan wanita tadi. Mungkin aku berada di rumah sakit jiwa, yang isinya orang-orang seperti dia, meracau. Yah, tapi aku nggak menemukan alasan mengapa aku bisa tersesat ke rumah sakit jiwa, sih.

Keluar dari barak tadi, aku menemukan tangga besi di sudut kiri. Naik dan naik sampai entah berapa puluh anak tangga, akhirnya aku menemukan sebuah pintu. Angin kencang menerpa wajahku saat kubuka pintu itu. Mendadak aku menggigil, kombinasi terpaan angin dan gelombang ketakutan yang merambat dari otak ke seluruh tubuh. Aku terduduk lemas di depan pintu besi kecil itu. Tidak seberapa jauh di depanku, terlihat pagar besi setinggi kira-kira semeter, membatasi badan kapal dengan hamparan samudra yang gelap.

Menangis, meraung, memukul-mukul lantai dek, sampai menampari pipiku sendiri sudah kulakukan dengan harapan terbangun dari mimpi ini. Aku memang terpesona pada Titanic, jauh sebelum dibuatkan film box office yang melejitkan nama Leonardo DiCaprio. Sejak masih SD, aku hobi mengumpulkan artikel tentang Titanic dari majalah yang dilanggan Ayah. Kemegahan dan kemewahan, serta nasib tragisnya entah mengapa bagiku merupakan romantisme tersendiri, terlebih setelah dibuatkan film tentang dua manusia beda kasta yang bertemu dan jatuh cinta di atasnya. Meski fiksi, itu mungkin terjadi, kan? Ketika masih sekolah dulu, aku sering membayangkan diriku seperti Rose DeWitt Bukater yang diperankan Kate Winslet, bangsawan cantik dalam film Titanic. But no, I’ve never imagined myself involve in a ship wreckage, moreover trapped in a wrong time! I have to find a way to go back to my time, to the future 102 years ahead.

Membuka pintu, aku kembali ke dalam. Mungkin aku harus kembali ke tempat di mana pertama kali aku ditemukan: gudang bahan makanan. Sialnya, gudang itu tak mungkin cuma satu. Aku tak tahu ini tanggal berapa, yang kutahu Titanic tenggelam dini hari tanggal 15 April 1912. Aku tak berani berharap hari ini masih tanggal 12 atau 13. Ayah selalu mengajarkanku untuk prepare for the worst, because nothing can get worse if you’re ready for the worst. Aku berlari menuruni tangga besi sempit itu, sambil mengangkat gaun kumal yang mengganggu langkahku. Sialnya, ketika tinggal sekitar sepuluh anak tangga lagi, kakiku dengan cerdasnya memutuskan untuk menginjak bagian belakang gaun. Dengan posisi seperti penerjun payung tetapi tanpa parasut, aku melayang sambil meratap, “NOT AGAIIIIN…”.

“Ugh!” Aku mendarat di atas sesuatu yang empuk. Lho, bukan lantai kapal? Oh my god, ternyata yang kududuki itu…perut manusia. Wajahnya tertutup gaun putih kumal pembawa bencana. Sosok itu terbangun, batuk-batuk kecil, entah karena syok perutnya dihantam benda seberat 45kg atau karena mencium bau tak sedap dari gaunku.  Yang kutubruk tadi ternyata seorang pria asing berumur sekitar akhir 20-an. Rambutnya cokelat gelap, matanya juga. Dari setelan jas yang dikenakannya, sepertinya ia bukan kaum pekerja kelas bawah yang tadi sempat kulihat berjalan-jalan di lantai tiga.

“I’m sorry!”, aku menundukkan kepala, lalu bergegas, tak berniat membuang waktu.

“Wait a moment!” Pria itu menangkap pergelangan tanganku.

Aku menoleh. Ia menatap tajam.

“You don’t look European…”

“You’re right. I’m Indonesian. I don’t even know why I’m here. Thank you for saving me, but I’m in a rush”, tukasku.

“Why rushing?” Pria itu mengerutkan kening.

‘Aduh maaaak, salah apa sih gue?’, pikirku dalam hati. ‘Ya, elo memang ganteng, tapi gue gak ada waktu! Gue harus cari cara kembali ke masa gue sebelum mati konyol di sini!’

“I… I need to find some place”, jawabku singkat.

“Okay… But the security guards will catch you if they find out that you are an illegal passenger. They have even prisons here, you know.”

Oh. My. God. Dia benar… Kalau aku tertangkap penjaga keamanan, bukan saja tidak bisa pulang dan mati tenggelam, I could even die drowning while getting stuck in a prison! Konyol kuadrat.

“What…what should I do?”, aku malah bertanya pada pria itu.

Ia mengerutkan kening lagi. “Umm… I don’t know what you’re looking for, but maybe I can help you. First, you need to change your clothes. Follow me.”

Pria berambut cokelat itu mengatakan “Follow me”, yang seharusnya dalam bahasa Inggris artinya, “Ikuti aku”, tapi kenyataannya dia malah menarik tanganku. Kami melewati koridor-koridor sepi untuk menghindari penjaga keamanan, lalu tiba di lantai yang sepertinya kabin kelas satu. Ia menarikku ke sebuah kamar. Whoa, pemandangannya benar-benar seperti di film. Furnitur serba mengilap, kursi-kursi berlapis beludru dan meja bertutupkan taplak bermotif bunga mawar, bahkan ada piano di sudut kamar. Aku duduk di atas kursi beludru itu, sementara pria yang belum kutahu namanya itu masuk ke salah satu kamar (iya, di dalam kamar ada beberapa kamar lagi). Ia kembali dengan membawa gaun panjang berwarna paduan cokelat dan putih.

“At least wear this if you wanna roam around”, dia berkata. Aku permisi dan berganti baju di kamar yang kosong. Sekembalinya dari kamar, pria itu sedang menyeduh teh. Aku duduk kembali.

“Hm… Cute”, dia berkomentar. Harusnya aku merasa senang, tapi fokus pikiranku sedang tidak ke situ.

“What date is it?”, kataku tiba-tiba.

Pria itu mengerutkan dahinya lagi. Ah, sekarang aku ingat, wajahnya mirip aktor Amerika yang terkenal lewat serial Dawson’s Creek, Kerr Smith.

“14 April, why?”

Gosh. Okay… The worst part is coming.

“Okay. I don’t have much time so I’ll tell you now. I need to find the food storage.”

“Yes, young lady… But why?”, dia masih saja bertanya, kali ini sambil menyesap teh. “Also, isn’t it disrespectful if you just leave without even like, telling me your name?”

Aku menepuk dahi. Pria ini menghabiskan waktu saja. Aku melirik jam di atas laci. Hampir tengah malam. Really, I don’t have much time.

Kujawab pertanyaannya dengan singkat. “My name is Linda. And you are?”

Dia tersenyum. “I’m Nicholas, but you can call me Nick. Wow, Linda, such a good name, like the name of The Beatles’ Paul McCartney’s wife…”

Setergesa-gesanya aku, telingaku masih dapat bersinkronisasi dengan otakku. “Hey, how in the world do you know Paul McCartney?!”

Nick tersenyum tipis. “And how do YOU know about it, too? Maybe you and I share the same fate…”

Saat mulutku masih menganga membentuk huruf O sempurna, Nick menepuk bahuku, “Welcome to time travelers’ club. You wanna find the place where you were found first, I guess?”

Aku hanya mengangguk tanpa suara.

Nick melanjutkan bicara, “In my case, I couldn’t go back using that method… I’ve been stuck here for almost four years. Maybe it’s my fate to live as an adoptive son of an English family in 1910s, pretending to be an amnesiac…”

Sekarang aku yang mencengkeram bahu Nick. “We’re gonna die tonight. The ship’s gonna sink! You have to trust me! I want to go back to the food storage and see what I can do there to return to my time!”

Nick tersenyum. “I trust you.”

Nick memaksa menemaniku mencari gudang bahan makanan sialan itu. Pasti di sana ada petunjuk mengapa aku bisa sampai terlempar ke masa ini. Aku kembali ke barak tempat para juru masak tertidur, lalu membangunkan dengan paksa salah satu dari mereka untuk menanyakan di mana pertama kali mereka menemukanku. Setelah mendapat jawaban, aku dan Nick bergegas menuju gudang yang dimaksud. Beruntung, tidak ada penjaga berlalu-lalang di situ.

Gudang bahan makanan itu ternyata tidak dijaga. Berpeti-peti buah-buahan ada di dalamnya, wanginya tercampur satu sama lain. Apa penghubungku di tahun 2014 dan 1912 ini? Pasti itu yang menyebabkan aku mengalami time slip, satu hal yang selalu menjadi tema film dan buku kesukaanku, tapi ternyata tidak seromantis itu ketika kualami sendiri. Langkahku terhenti ketika aku tiba di depan peti-peti buah di sudut dalam sebelah kiri. Mangga. Buah yang termasuk mewah pada zaman itu. Buah yang hanya ada di daerah tropis, mungkin diimpor dari Indonesia? Mungkin leluhurku zaman dulu punya kebun mangga, yang sekarang menjadi rumahku, dan pernah menjualnya untuk diekspor?

“This is it. This is the connector between my time and this time.”

“Mango?”, Nick tertawa. “Then what are you gonna do? Smack your head with mango?”

“I don’t know! I just think I need to do something!”, aku meledak. Air mata mulai menggenang.

Nick salah tingkah. “Uh… I’m sorry, Linda.”

“I’m afraid, Nick. I don’t wanna die here… I will do everything to go back, even if it’s as stupid as smacking my head with fucking mangos!”

Aku benar-benar melakukan apapun yang kubisa untuk kembali ke masaku. Membenturkan mangga ke kepala, memakan mangga, sampai terjun dari tumpukan peti berisi mangga, semua tanpa hasil. Nick menemaniku tanpa tertawa sedikitpun. Sampai kemudian peti-peti buah itu bergoyang hebat dan berjatuhan. Oh-oh… Kurasa kapal ini menabrak sesuatu.

Aku merasa bodoh. Daripada mencari gudang bahan makanan, bukankah lebih baik kalau aku tadi mencari kapten kapal dan memperingatkan soal gunung es? Linda… you’re just being too selfish, now you can’t even save yourself. Aku terhenyak menyadari kebodohanku, sementara Nick menarikku keluar dari ruangan yang sekarang sudah porak poranda.

Kami tiba di geladak dan aku melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa kulihat rekonstruksinya di film. Orang-orang panik berlarian mencari keluarganya, mencari sekoci, pelampung, atau apapun yang bisa dijadikan penyelamat. Nick, dengan ketenangan luar biasa, memberikan sebuah jaket pelampung kepadaku.

“Trust me, we won’t die here”, dia berkata. Matanya menatap lurus-lurus ke mataku.

“I trust you.”

Ingatanku setelah itu bercampur baur. Dinginnya air laut, Nick yang memelukku agar kami tetap hangat, jeritan orang-orang, bunyi peluit dan cahaya petasan yang diluncurkan untuk menarik perhatian kapal yang lewat, kemudian semuanya gelap.

“Lin…? Linda? Linda!”

Sayup-sayup aku mendengar suara wanita yang familiar. Kubuka mata dan kulihat wanita itu menjeritkan nama Tuhan, lalu menangis dan memelukku. Ibu. Aku melihat sekeliling. Ruangan putih dengan tirai. Lengan kanan dan kepalaku terbalut perban. Aku terisak. Mungkin aku cuma bermimpi tentang Titanic, saking seringnya memikirkan topik tentang Inggris. Mimpi yang sangat buruk.

Setelah Ibu pulang, aku bersiap untuk tidur. Aku masih harus dirawat di rumah sakit ini karena kepalaku mengalami luka cukup serius. Iseng-iseng, kunyalakan ponsel dan kubuka Facebook-ku. Ada satu pesan masuk. Aku menjerit saat membaca judul dan pengirim email tersebut.

Nicholas Byrne. Let’s meet in England.

Dengan gemetar, aku mengeklik email itu.

“Dear Linda. Finally I found your account. So many Indonesians have Linda as their names! How have you been? I hope you safely returned to your time, because I did. I’m still in England, though, 102 years ahead. Maybe when we drowned, the time gap was opened and you brought me along to 2014. Thank you! I owe you my life.

Linda, I want to tell you something I haven’t told when we were aboard the Titanic. You know I’m a time traveler. Actually, it’s much worse. I’m a multiple time traveler. I’ve been going back and forth the past and the future. I was there when The Beatles had their first concert! I even helped Pharaoh’s slaves build the pyramid! And I think I was on the ship of the VOC when they first arrived on your land! I can’t control how long I stay in a period of time, nor can I decide where I will appear. But I realize that my age is increasing forward, not as messed up as places I’ve been thrown into. So maybe I’ll live in the present –uh, I’m not even sure 2014 is a present time- for a long time, or maybe tomorrow I’ll arrive in distant past. But for sure, I won’t go back to be a baby or suddenly become an old man. LOL. Let’s meet in London, England. I’ve been thrown here three times, so maybe God knows that I have to do something in England. Maybe it is to meet you. Maybe you can help me stop this painful circle of time travels. Or maybe I just want to see you while we have time.

PS: Don’t blame yourself for the ship wreckage. Even if you warned the captain, I think he’d just think of you as a crazy girl. LOL.”

Dadaku sesak membaca pesan dari Nick. Pria yang hanya kukenal semalam. Aku yakin, bertemu dengannya bukan kebetulan. Sekarang aku tahu mengapa aku harus pergi ke Inggris.

2014-05-31-21-57-24_deco

Advertisements