All My Senses are Calling for England

Sekitar akhir April, salah satu Twitter user favorit gue, @aMrazing aka Koh Alex, sering ngasih teaser tentang trip yang akan dia jalani bareng followers. Waktu itu dia mengajak followers-nya tebak-tebakan, kira-kira ke kota dan negara manakah dia akan pergi. Dengan yakin gue reply, “London, Inggris”. Bull’s eye. Setelah destinasinya dibuka, gue mulai mencari ide karena gue yakin pasti disuruh nulis! Untuk hadiah semewah itu, gue rasa nggak mungkin kalau syaratnya cuma beli produk dan selfie bareng produknya. Double bull’s eye.

Buat beberapa orang, tema “Kenapa Saya Harus ke Inggris?” looks like a piece of cake. Misalnya: fans klub-klub sepakbola di English Premier League, fans Sherlock Holmes, pencinta The Beatles, Potterheads, atau travel junkies. Ada juga yang pengin ke Inggris karena punya keterkaitan emosi secara personal, misalnya mau mencari ayahnya yang hilang, atau menemui gebetan saat dulu ikut summer school. Mereka tentu bisa menulis berbagai blog post dengan lancar dan menggebu-gebu. Sementara mereka mulai menulis, di pikiran gue saat itu cuma, “Gue pengin banget ke Inggris”. I want to see, feel, touch, smell, hear, and taste England with my own body and mind. But heck, every contestant must want the same, too. Kemudian gue berpikir dalam-dalam, kenapa sih gue susah banget mengungkapkan alasan gue pengin ke Inggris? Apa karena gue bukan fans berat hal-hal yang gue sebut di atas tadi, atau karena gue gak punya ambisi pribadi ingin ke sana? Yah, “pengin ke Inggris” pun sudah merupakan alasan kuat, sih, but it’s not good enough. After contemplating (serius!), then I found out the reason why. I was just too afraid to even think about it, let alone to write about it and let everybody know. Tapi, kalau gue nggak coba ungkapkan, gue nggak akan tahu hasilnya, kan?

Oke…. Jawabannya adalah: Kalau gue bisa pergi ke sana, gue takut akan jatuh cinta ke Inggris *kasih efek petir menyambar-nyambar*. Gue takut kalau gue menang, lalu mengunjungi Inggris, gue bakalan nagih dan ingin tinggal di sana, lebih lama dari sekadar liburan. Aneh, ya?

Sejak masih mahasiswa, gue selalu memimpikan bisa lanjut kuliah ke Inggris. Dosen-dosen gue yang lulusan sana sering banget cerita tentang kehidupan di Inggris. Salah satu cerita yang gue ingat adalah tentang pak dosen yang menyewa kamar di belakang salah satu stadion gede. Setiap ada pertandingan di sana, beliau selalu nonton karena fans sepakbola di Inggris mengingatkannya pada suporter di Indonesia, yang mendukung tim favoritnya mati-matian. Jadi, yah…Dengan menonton pertandingan di stadion, kerinduan terhadap tanah air bisa sedikit terbalaskan. Walau bukan fans EPL, gue jadi mikir, “Emangnya kayak apa, sih, antusiasme fans bola di Inggris saat menyaksikan tim kesayangannya berlaga? Di TV kok kayaknya berita tentang suporter bola di Inggris serem-serem…”

Seiring waktu berjalan, gue merasa semakin jauh dari Inggris karena selera musik gue pindah dari britpop ke Jpop dan Kpop. Dari yang dulu dengerin lagu-lagu macem The Beatles atau boyband BLUE, 5ive dan 911, gue beralih dengerin L’Arc-en-Ciel dan Dong Bang Shin Ki. Saat akhirnya gue berkesempatan melanjutkan kuliah di Korea, dalam hati gue terbetik, “Is it time to say goodbye to England?”. But even Korea made me remember England even more. Banyak universitas di Korea yang gedungnya mengadaptasi arsitektur gedung-gedung klasik di Inggris, contohnya kampus gue sendiri. Di samping coffee shop yang menjamur, di Korea banyak pula tea shop, yang lagi-lagi interiornya dibuat menyerupai tea shop di Inggris. Gue pun mulai mengenal minuman-minuman teh macam earl grey, darjeeling, assam, rosemary, dan sebagainya. Saat sedang berada di dalam tea shop dekat kampus, kadang gue membayangkan seperti apa rasanya minum English tea, di dalam tea shop di Inggris, sambil melihat taksi hitam dan bus double decker berlalu-lalang. Ditambah lagi kalau bisa sambil melihat Big Ben dari kejauhan. Sedap…

Di film-film atau drama yang berlatar Inggris, sepertinya negara itu selalu digambarkan selalu dingin, berlangit suram, gedung-gedungnya berwarna monotone, dan orang-orang yang hilir mudik di jalan juga memakai pakaian yang warna dan modelnya serupa, mostly trench coat. In one word: suram. I don’t know why, but I’m not convinced about it. Terbiasa hidup di Indonesia yang begitu beragam, dari mulai gaya busana sampai gaya arsitektur gedung, gue sulit percaya kalau Inggris demikian monoton. Gue ingin membuktikan dengan mata sendiri, “Hey, England is not as gloomy as people portray it on screen! The people are also fun!”.

Ngomong-ngomong tentang Briton atau orang Inggris, akhir-akhir ini gue sering berhubungan dengan mereka, karena pekerjaan gue menuntut untuk kolaborasi dengan perusahaan konsultan di Inggris. Dua bulan yang lalu, gue bertemu dengan dua Briton bernama Robert dan Louise. Walaupun seminggu penuh ngomongin kerjaan, tapi gue nggak merasa terbebani, karena gue sukaaaa banget mendengar orang berbicara dalam aksen British. Apalagi kalau udah ngomong dalam bahasa Inggris yang nuansanya “Inggris banget”, seperti “Would you please advise on how we solve it?” atau “Would it be good for you if we change it like this?”, gue langsung bayangin kami sedang rapat di dalam Istana Buckingham. Gue dan Louise berambut sanggul tinggi dan pakai gaun yang saking panjangnya bisa untuk nyapu lantai, sementara si Robert pakai tuksedo, tak lupa dengan kacamata berantai dan tongkatnya. Absurd.

Terakhir, oke ini rada aneh (emang dari tadi nggak?). Thanks to my brothers who are train freaks, gue juga mulai menjadi train freak semenjak gue tinggal di Korea tahun 2009. Gue senang mencoba naik kereta ke berbagai tempat, baik menggunakan kereta bawah tanah (subway train) atau kereta biasa. Saat liburan ke Jepang, gue mencoba naik Shinkansen (bullet train) dan monorail. Wah, sensasi naik kereta itu memang beda… Pemandangan yang dilihat di sepanjang jalan, orang-orang yang naik-turun, pembicaraan random yang tertangkap di telinga… You won’t get it all unless you take a train trip. Nah, gue pengin banget merasakan naik tube (subway train) dan kereta api di Inggris, syukur-syukur nanti ada perjalanan naik kereta dari stasiun King’s Cross. Gue pengin merasakan apa yang dirasakan JK Rowling saat dia berada di dalam kereta, kenapa pemandangan yang dia lihat bisa sampai menginspirasinya menulis salah satu novel terbaik yang ada di zaman ini.

So yeah, I’m ready to fall in love with England. Would you want to bring me there? Who knows, after falling in love with England, I’ll live there for a long time. #InggrisGratis

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s